You are currently viewing Menelusuri Jejak Kampung Nelayan di Medan Belawan

Menelusuri Jejak Kampung Nelayan di Medan Belawan

Di pesisir kota Medan terdapat suatu kampung yang tersohor, namun pernah dinobatkan sebagai daerah marjinal dan menjadi sasaran kerja Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

Kampung tersebut dikenal sebagai Kampung Nelayan Seberang. Letaknya berada di atas permukaan air kecamatan Medan Belawan. Terdapat enam ratus dua puluh lima kepala keluarga atau sekitar dua ribu dua ratus sembilan puluh lima penduduk yang menggantungkan hidupnya di atas perairan laut Belawan.

Mayoritas warganya memeluk agama islam, bersuku bangsa Melayu Semenanjung Selat Malaka. Perlu menyeberang dengan perahu atau boat penumpang untuk mampir ke kampung ini. Tarif sekali pergi berkisaran Rp.4000 per orang.

Menilik lebih dekat, di Kampung Nelayan Seberang tepatnya di lingkungan 12. Di lingkungan tersebut, dijuluki sebagai Kampung Nelayan Pelangi karena dinding hingga atap-atap rumah warga memiliki warna yang berbeda. Setiap bagian sisi rumah dicat dengan warna mencolok.

Saat memasuki Kampung Nelayan Pelangi, akan disambut dengan tampilan gapura selamat datang yang dicat warna warni dan terbuat dari botol bekas tersusun rapih.

Menurut sejarahnya, perkampungan yang bersebelahan dengan Desa Paluh Kurau, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang tersebut, mulai dicat seperti warna pelangi oleh aparat Marinir Lantamal I yang melakukan bakti sosial pada awal November 2019. Sejak saat itu, masyarakat luar mengenalnya sebagai Kampung Nelayan Pelangi.

“Adanya bantuan pengecatan rumah dari aparat Marinir, rumah di kampung nelayan jadi indah. Kesan kumuh yang awalnya melekat pun mulai berganti. Orang-orang menyebut kampung kami sebagai kampung Nelayan Pelangi,” ujar Sarawiyah, Kepala Lingkungan 12 Kelurahan Belawan I.

Rumah-rumah warga berkonsep kayu dan papan panggung. Berdiri di atas permukaan laut. Perubahan tersebut menjadikan Kampung Nelayan Pelangi nyaris menjadi tempat wisata, karena banyaknya masyarakat luar yang penasaran dan tertarik untuk berkunjung.

Di sisi lain, warga di Kampung Nelayan Pelangi harus tinggal berdampingan dengan sampah. Hampir di setiap bagian bawah rumah warga tampak sampah dari laut yang berserak. Kondisi tersebut menambah kesan kumuh pada kampung ini.

Berdasarkan pernyataan warga, berbagai cara telah dilakukan untuk mengurangi sampah yang berada di bawah rumah. Misalnya membentuk kegiatan bank sampah, membakar sampah tersebut dengan menggunakan wadah aluminium hingga mengolahnya menjadi kerajinan tangan.

Cara-cara tersebut belum efektif menjadi solusi atas permasalahan sampah. Sebab, sampah yang tampak di sekitar mereka tidak hanya sampah rumah tangga saja, namun sebagai besar sampah berasal dari air laut saat pasang besar.

Tinggalkan Balasan