You are currently viewing Menilik Keseharian Masyarakat di Kampung Nelayan Pelangi Belawan I

Menilik Keseharian Masyarakat di Kampung Nelayan Pelangi Belawan I

Menggantungkan hidup sebagai nelayan sudah menjadi tradisi turun-temurun di kalangan masyarakat Kampung Nelayan. Kampung yang sering disebut sebagai kampung pelangi ini sangat identik dengan profesinya sebagai nelayan.

Sejak kecil mereka sudah dilatih untuk menjadi seorang nelayan. Masyarakat di sana juga memiliki pemikiran bahwa sekolah setinggi apapun mereka tetaplah menjadi seorang nelayan. Bahkan, tidak sedikit anak-anak yang masih berusia 6 tahun sudah diajarkan untuk menjadi nelayan.

Jika air laut pasang besar maka pendapatan para nelayan akan bertambah, tetapi jika air laut pasang surut maka akan sedikit pendapatan yang didapatkan oleh para nelayan.

Aktivitas Ibu-Ibu di Kampung Nelayan Pelangi Belawan I

Selain menjadi nelayan, pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh kepala keluarga di sana yaitu menjadi supir perahu/boat. Karena perahu adalah kendaraan umum yang digunakan, maka mereka memanfaatkan perahu tersebut untuk menambah pemasukan.

Menurut pengamatan yang telah dilakukan oleh tim, masyarakat di kampung ini memiliki profesi lainnya seperti buruh pabrik, tukang cuci, berdagang dan guru honorer. Tetapi banyak juga Ibu-ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh Ibu-ibu rumah tangga disana hanyalah sebatas membantu suaminya untuk memilih hasil tangkapan ikan.

Kegiatan Masyarakat Kampung Nelayan Pelangi

Di tengah kesibukan mengurus anak dan membantu suaminya, Ibu-ibu rumah tangga di sana sering mengisi waktu luang dengan kegiatan membuat kerajinan tangan dari limbah sampah plastik yang berserakan di sekitar rumah mereka.

Ibu-ibu di Kampung nelayan mulai produktif dalam pembuatan kerajinan tangan sejak dua tahun yang lalu. Pada awalnya mereka melakukan kegiatan itu hanya untuk mengisi waktu yang kosong. Saat itu mereka tidak berpikiran untuk memperluas pemasaran produk yang dihasilkan.

Ide mengelola sampah menjadi kerajinan tangan berawal dari Ibu Sarawiyah sebagai Kepala Lingkungan 12 di Kampung Nelayan. Ide ini diberikan untuk membantu masyarakat di sana dalam mengatasi sampah yang berserakan sekaligus membantu Ibu-ibu rumah tangga dalam menambah pendapatan untuk kebutuhan hidup.

Tinggalkan Balasan